Seni Ketoprak Jawa

Seni Ketoprak Jawa

Taman Balekambang didirikan oleh KGPAA Mangkunegara VII pada tahun 1921. Namun rombongan ketoprak Balekambang baru menghibur masyarakat Surakarta dan sekitarnya pada tahun 1950, dengan panggung darurat. Taman yang berupa kolam dan hutan kota ini didedikasikan untuk dua puteri sang raja yakni GRay. Partini dan GRay. Partinah yang kelak turut menorehkan sejarah dalam perkembangan seni ketoprak di Tanah Jawa. Bahkan, Balekambang turut melahirkan para pelawak dalam sandiwara komedi Srimulat. Kini sebuah gedung teater yang dibangun akhir tahun 1980-an menjadi arena berekspresi para seniman ketoprak. Banyak budayawan meyakini embrio seni ketoprak telah muncul pada paruh kedua abad kesembilan belas di pedesaaan sekitar kota Kerajaan Kasunanan Surakarta. Jika ingin menyusuri asalnya, ketoprak merupakan kesenian orang – orang agraris. Budaya agraris itu jelas terlihat dari semangat bekerja keras mengolah tanah bersama, kemudian kegembiraan saat masa panen yang dirayakan bersama – sama pula. Ketika sedang bekerja mereka kadang bersenda gurau dan inilah yang merupakan cikal bakal sandiwara drama rakyat.

seni

Sebagai sebuah kearifan lokal, kesenian ketoprak sangat dekat dengan masyarakat dari sisi legenda, tokoh dan pola pengucapan. Jika ditinjau dari sisi psikologis, ketoprak ibarat Homo Ludens, manusia yang suka bermain. Konon  ketoprak itu berasal dari Desa Plesungan, sebuah desa di Surakarta dengan toponimi yang mengacu kata lesung. Seni pertunjukan mereka berisi kisah sehari – hari dengan iringan tabuhan lesung lalu dikemas dalam lingkaran penonton dan terinstitusikan sebagai drama rakyat. Kemudian, seni drama rakyat ini berkembang menggunakan keprak yang juga mengadopsi suara lesung. Tampaknya ada hubungan antara istilah ketoprak dengan suara “prak..prak..prak” yang dihasilkan dari tabuhan lesung. Namun ada juga yang menduga bahwa istilah ketoprak terkait dengan bunyi alat tabuh ketok atau keprak yang kerap dibawa dalang ketika pementasan seni drama rakyat tersebut. Hingga saat ini belum ada yang menulis sejarah ketoprak secara runtut. Pada perkembangannya ketoprak kemudian lebih banyak bergeser ke Yogyakarta. Ketoprak banyak menggunakan busana dan gending – gending khas Yogyakarta. Hal ini yang mendasari kenyataan bahwa seni ini berpusat di Solo namun justru berkembang di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *